Friday, June 22, 2012

Penelitian Epidemiologi Virus Flu Babi di Sentra Peternakan Babi dalam rangka antipasi Letupan Penyakit

Pada tahun 2010, WHO telah mengumumkan bahwa dunia telah terjadi wabah novel H1N1 sehingga setiap negara berkewajiban untuk melindungi setiap warga negaranya dari virus ini. Hampir semua negara didunia telah terinfeksi virus ini termasuk Indonesia. Di Indonesia, virus influenza H5N1 telah menjadi endemis, dengan teridentifikasinya novel H1N1 pada manusia di Indonesia, tentu menjadi hal serius yang perlu diperhatikan. Kemungkinan terjadinya reassortant antara virus H5N1 dengan virus influenza lainnya termasuk virus novel H1N1.
Pada penelitian ini dilakukan identifikasi virus influenza pada babi di Indonesia sepanjang tahun 2010, serta mengidentifikasi virus novel H1N1 pada babi di Indonesia sepanjang tahun 2010 dan mengetahui sebaran virus influenza pada babi di Indonesia sepanjang tahun 2010. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebaran virus influenza A seasonal flu pada babi cukup tinggi. Meskipun secara serologi diketahui adanya antibodi positif terhadap virus Swine flu H1N1 classical, pada babi tidak berhasil dideteksi adanya virus Swine H1N1 classical tersebut tidak terdeteksi adanya virus novel H1N1. Pada penelitian ini juga tidak mendeteksi adanya virus novel H1N1 pada babi yang diteliti.

Friday, January 13, 2012

Pemetaan Genetik Virus Rabies Pada Anjing, Kucing dan Kera Sebagai Dasar Penetapan Pengendalain Penyakit.

Telah diteliti sekuen asam amino gen penyandi nukelotprotein (N) dari virus rabies isolat Indonesia asal anjing dari Banten, Makasar, Bukit Tinggi, Medan, dan Bali. Isolat-isolat ini menunjukkan tingkat homologi yang tinggi diantara sesama isolat Indonesia yaitu mencapai 100%. Sementara itu, tingkat homologi antara virus rabies isolat dari kucing dengan virus rabies isolat dari anjing asal Indonesia mencapai 97%. Hasil anĂ¡lisis kekerabatan berdasarkan sekuen asam amino gen N menunjukkan bahwa semua virus rabies isolat Indonesia memiliki hubungan kekerabatan yang lebih dekat dengan isolat asal China dibandingkan dengan isolat Thailand, Laos, Birma, dan Vietnam yang secara goegrafis lebih dekat dengan Indonesia. Data yang diperoleh dari hasil anĂ¡lisis hubungan kekerabatan tersebut memperkuat asumsi bahwa virus rabies galur lapang asal China telah berpindah ke Indonesia melalui anjing yang dibawa pemiliknya dari China ke Indonesia.
Kata kunci: PCR, Sekuensing, rabies, anjing, kucing, gen penyandi nukleoprtein (N), otak

PENGARUH MUSIK TERHADAP TINGKAH LAKU PADA ANAK USIA 2-15 TAHUN

¥ Pity umur 2 tahun : Sejak umur 1 tahun sampai sekarang ia sudah diperdengarkan lagu anak-anak bahkan secara tidak sengaja ia mendengar lagu-lagu orang dewasa, dan ia pun langsung mengiatnya. Hal ini membuktikan bahwa melalui musik dapat melatih ingatannya, dalam perkembangan kosa kata, dan melatih daya pendengarannya. Terkadang ia mengekspresikan lagu-lagu dalam keadaan tertentu. Dan setiap lagu yang ia nyanyikan pasti berhubungan dengan apa yang ia rasakan, ia lihat dan atau ia dengar. Contoh : Pada saat hujan di rumah, dengan spontan ia bernyanyi lagu “Tik..tik..Bunyi Hujan”.

¥ Rifky umur 4 tahun : Anak ini sejak kecil juga sudah diperdengarkan lagu anak-anak. dan cara ia mengekspresikannya hanya ketika ia merasa senang.

¥ Ummy umur 15 tahun : Gadis ini sejak kecil suka sekali mendengarkan musik sekaligus menyanyi. Hanya saja ia berani mengekspresikan lagu dimulai dari umur 13 tahun. Karena jenis-jenis musik banyak, ia lebih suka musik Rock. Musik Rock cenderung mempengaruhi emosi yang tinggi dan lebih pantas yang menyukai musik ini adalah laki-laki. Karena ia seorang gadis, maka hampir seluruh tingkah laku dan penampilannya menyerupai laki-laki. Contoh : – Ketika ia menyetir motor sambil mendengarkan musik Rock, pasti mengendarai motornya kencang. Sebaliknya ketika ia sambil mendengarkan musik yang slow mengendarai motornya melambat.

HASIL
Semua orang dalam berbagai umur pasti senang mendengarkan musik, baik musik pop, rock, dangdut, jazz dan sebagainya. Musik dapat mempengaruhi dari berbagai aspek yaitu :
1. Dapat mempengaruhi tingkah laku dan kepribadian
2. Dapat mempengaruhi tingkat emosional
3. Dapat mempengaruhi perkembangan kosa kata pada anak usia 1-5 tahun
4. Dapat mempengaruhi penampilan
5. Dapat melatih kepekaan pendengaran
6. Musik sebagai tempat pelampiasan emosional
7. Dapat menyeimbangkan antara fungsi otak kanan dan kiri, sehingga menjadi cerdas dalam berkreativitas.
8. Berfungsi sebagai taktik dalam mencari keuntungan pada sebuah restoran yang menggunakan musik-musik yang slow atau romantis, sehinggga para pengunjung merasa nyaman dan menjadi banyak pengunjung.

Tuesday, June 3, 2008

Studi tentang implementasi kurikulum berbasis kompetensi pd pelatihan kompetensi dasar di Pusat Pengembangan Penetaran Guru Teknologi [PPPGT] Bandung

Oleh : Rusman
Tesis Program Pasca Sarjana UPI Bandung
Pembimbing : Ishak Abdulhak dan Mukhidin

Abstrak Permasalahan yang diangkat dalam tesis ini adalah studi tentang implementasi kurikulum berbasis kompetensi dasar yang bertujuan untuk mengetahui prosdur pelaksanaan implementasi kurikulum berbasis kompetensi pada pelatihan kompetensi dasar, memperoleh data tentang faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi kurikulum berbasis kompetensi pada pelatihan kompetensi dasar di PPpGT Teknologi bandung.

Teori pendukung yang digunakan dalam penelitian ini adalah: teori-teori kurikulum dan kompetensinya seperti yang dikemukakan oleh Robert S. Zais (1976), Nasution (1982), Archasius Kaber (1988), Said Hamid Hasan (1987), Anna Rifai & Adams (1995), Oemer Hamalik (1993), Nana Syaodih Sukmadinata (1997), Teori Tentang Pendidikan, Pelatihan dan Pembelajaran dari Djudju Sudjana (1996), Paul G. Frediman (1985), Nana Sudjana & R. Ibrahim (1989).

Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian adalah pengajar, peserta pelatihan, penyelengara, dan pengembang kurikulum pada pelatihan kompetensi dasar di PPPG Teknologi Bandung. Teknik pengumpulan data dengan teknik observasi, wawancara, studi dokumentasi, dan triangulasi. Sedangkan tahapan penelitian terdiri dari tahap pra lapangan, lapangan dan pelaporan.

Hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut: prosedur implementasi kurikulum berbasis kompetensi adalah a). persiapan, meliputi: tinjauan terhadap rekrutmen peserta, identifikasi kebutuhan belajar dan sumber belajar, kemungkinan-kemungkinan hambatan, penjabaran materi, dan pengadaan sarana belajar; b). pelaksanaan meliputi: urutan pelaksanaan kegiatan, tinjauan terhadap bahan/materi belajar, metode dan teknik pembelajaran; c). evaluasi, meliputi: pre tes, proses dan pos tes, tinjauan terhadap hasil evaluasi dan untuk mengetahui mengetahui kompetensi yang dimiliki peserta pelatihan dengan menggunakan tes ferformance. Faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi kurikulum berbasis kompetensi. a). faktor internal, yaitu tenaga pengajar; b). faktor ekternal adalah peserta, pnyelenggara, dan pengembang kurikulum. Jadi implementasi kurikulum berbasis kompetensi sangat dipengaruhi oleh kemampuan, pemahaman, keyakinan, pengalaman, dan penguasaan serta ketepatan dalam menentukan model, pendekatan, strategi, metode, media, sarana, teknik dan sumber belajar oleh seorang pengajar sebagai implementator.

Rekomendasi penelitian ini a). untuk pelaksanaan pelatihan dengan menggunakan kurikulum berbasis kompetensi harus melalui perencanaan yang baik, dalam menentukan kompetensi dan sub-sub kompetensi kedalam elemen-elemen tujuan pendidikan/pelatihan hendaknya dirumuskan dengan melibatkan peserta; b). dalam KBM sebagai aktualisasi dari kurikulum berbasis kompetensi, hendaknya pengajar menggunakan pendekatan yang berpusat pada peserta dan terpusat pada tujuan yang hendak dicapai, serta memaksimalkan penggunaan media dan sarana belajar sesuai dengan tuntutan kompetensi yang diharapkan Implikasi. Agar memberikan dampak yang besar terhadap peningkatan kualitas SDM, maka hendaknya dalam menyusun perencanaan, dan pelaksanaan kegiatan pendidikan dan pelatihan, khususnya penyusunan dan perumusan kurikulum harus didasarkan pada perumusan kompetensi-kompetensi yang harus dimiliki dan dibutuhkan oleh siswa/peserta pelatihan.

sumber : http://digilib.upi.edu/pasca/available/etd-0925106-145202/

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU BIOLOGI DALAM PENGELOLAAN PEMBELAJARAN MELALUI SUPERVISI KUNJUNGAN KELAS PADA SMA BINAAN DI KABUPATEN KUDUS

Dra. Hj. Sutarsih, M.Ed.
Pengawas SMA Kab. Kudus

ABSTRAK : Kemampuan Guru Biologi dalam pengelolaan pembelajaran di SMA Kabupaten Kudus masih rendah. Hal ini disebabkan kurangnya pemahaman guru terhadap lima tugas pokok guru, kinerja guru rendah karena merasa tidak dikontrol dan diawasi oleh kepala sekolah, kemampuan untuk mengaplikasikan RP / RPP di kelas tidak sebanding dengan RP / RPP yang tertulis. Akhirnya, berdampak pada hasil Ujian Nasional dan Ujian Sekolah di bawah standard kriteria kelulusan. Oleh karena itu, perlu diadakan supervisi kunjungan kelas oleh supervisor agar kemampuan pengelolaan pembelajaran guru biologi di SMA Kabupaten Kudus meningkat. Penelitian ini bertujuan: 1) Untuk mengetahui kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran biologi, 2) Untuk mengetahui bentuk-bentuk supervisi kunjungan kelas oleh supervisor terhadap kemampuan guru dan prestasi siswa dalam pengelolaan pembelajaran biologi. Subjek penelitian adalah guru-guru mata pelajaran biologi. Bentuk penelitian adalah penelitian tindakan sekolah dengan dua siklus. Analisis data menggunakan analisis data kuantitatif dan kualitatif. Kuantitatif untuk mengetahui peningkatan kemampuan guru biologi dalam pengelolaan pembelajaran dan prestasi sekolah setelah mengikuti pembinaan oleh supervisor. Kualitatif untuk mengetahui perubahan perilaku guru setelah mengikuti pembinaan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata observasi kunjungan kelas pada siklus I = 69,29 meningkat 81,86 pada siklus II, rata-rata hasil post tes siswa pada siklus I = 69,16 menjadi 76,10 pada siklus II, data ketuntasan siswa pada siklus I dari 262 siswa; 184 siswa (70,2%) telah memenuhi KKM, 74 siswa (29,8%) belum penuhi KKM, sedang pada siklus II dari 262 siswa, 247 (94,3%) = telah memenuhi KKM, 15 siswa (5,7%) belum memenuhi KKM. Selain peningkatan kemampuan pengelolaan pembelajaran, juga diikuti perubahan sikap guru baik dari aspek perencanaan maupun pelaksanaan pengelolaan pembelajaran.

Kata Kunci :
Kemampuan guru, supervisi kunjungan kelas

Thursday, May 15, 2008

UPAYA PENINGKATAN KINERJA GURU MELALUI SUPERVISI INDIVIDUAL DENGAN PENDEKATAN KOLABORATIF TERHADAP GURU MATA PELAJARAN EKONOMI PADA SMA NEGERI SUB RAY

Drs. Sudibyo AP, M.Pd. & Prof. Dr. Astini.

ABSTRAK : Penelitian ini bertolak dari rendahnya hasil belajar pada mata pelajaran ekonomi di Sekolah Menengah Atas (SMA, khususnya SMA Negeri Sub Rayon 04 Kota Semarang). Hal ini terjadi karena peserta didik belum mencapai ketuntasan belajar yang terlihat dari hasil-hasil tes, padahal mata pelajaran ekonomi merupakan pelajaran utama pada jurusan IPS. Faktor-faktor penyebabnya di antaranya adalah dalam proses pembelajaran sebagian peserta didik kurang memiliki motivasi belajar atau daya serap peserta didik rendah. Di samping itu banyak peserta didik yang tidak mengerti apa yang disampaikan oleh guru yang disebabkan guru kurang dapat mengelola pembelajaran dan rendahnya kinerja guru. Tujuan penelitian ini adalah terjadinya peningkatan kinerja guru yang akan berimplikasi pada terjadinya peningkatan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran ekonomi. Metode penelitian ini adalah dengan penelitian tindakan (action research) yang dilaksanakan dengan dua siklus. Berdasarkan hasil penelitian tindakan di atas dapat disimpulkan: (1) Supervisi individual dengan pendekatan kolaboratif memberikan pengaruh terhadap peningkatan kinerja guru ekonomi SMA pada Sub Rayon 04 Kota Semarang baik komponen perencanaan pembelajaran mapun komponen pelaksanaan pembelajaran, dan (2) peningkatan kinerja guru tersebut berdampak pada peningkatan hasil belajar ekonomi peserta didik SMA Negeri pada Sub Rayon 04 Kota Semarang. Selanjutnya peneliti merekomendasikan: (1) Supervisi individual dengan pendekatan kolaboratif dapat dilakukan oleh pengawas terhadap guru mulai dari perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, sampaidengan evaluasi hasil belajar, khususnya guru ekonomi; (2) Dalam pembelajaran guru perlu diarahkan untuk mempersiapkan media dan sumber belajar dengan baik sehingga mudah untuk melaksanakan proses pembelajaran dan daya serap peserta didik menjadi lebih tinggi; (3) Sekolah diharapkan membantu pendanaan dan pembiayaan pembuatan media dan sumber belajar agar kesulitan-kesulitan guru dalam mempersiapkan media dan sumber belajar yang lebih optimal dapat diatasi.

Kata kunci: supervisi individual kolaboratif, peningkatan, kinerja guru.

Friday, May 2, 2008

Pengembangan Program SWiSH untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Bahasa Jawa bagi Siswa Sekolah Menengah Pertama

oleh : Heri Triluqman BS, dkk


Fakta menunjukkan bahwa di muka bumi ini 6 -10 bahasa etnis hilang setiap tahun. Bukan tidak mungkin hal yang sama akan menimpa bahasa jawa yang merupakan bahasa daerah dengan penutur lebih kurang 75,5 juta orang atau terbanyak ke-11 di dunia ini jika tidak ada upaya nyata untuk melestarikannya (Rustono, 2005). Hal tersebut bisa menjadi pelajaran sekaligus peringatan bagi pendukung bahasa Jawa. Penelitian ini difokuskan pada pengembangan media pembelajaran berbasis komputer dengan program SWiSH sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan motivasi belajar bahasa jawa bagi siswa. Ujuan penelitian adalah: (1) Mengembangkan media pembelajaran berbasis komputer dengan program SWiSH dalam pembelajaran bahasa jawa; (2) Mengetahui tingkat keefektifan media pembelajaran dengan menggunakan program SWiSH dalam meningkatkan motivasi belajar bahasa jawa bagi siswa. Desaian penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan (research and development). Produk dalam penelitian ini adalah program komputer untuk pembelajaran, yaitu program SWiSH untuk pembelajaran bahasa jawa. Langkah pelaksanaan penelitian yang dikembangkan mengacu pada strategi penelitian dan pengembangan yang dikemukakan oleh Borg dan Gall (dalam Sukmadinata, 2005:169-170) dengan beberapa modifikasi yang telah dikembangkan oleh Sukmadinata, yaitu meliputi; (a) Studi pendahuluan yang meliputi studi literatur, studi lapangan dan penyusunan draf awal produk; (b) ujicoba dengan sampel terbatas (uji coba terbatas) dan uji coba dengan sampel yang lebih luas (uji coba lebih luas). Dalam tahap ini juga dilakukan penyempurnaan terhadap produk awal dengan memperhatikan hasil uji coba; (c) uji produk dan sosialisasi/diseminasi produk. Hasil penelitian memberikan simpulan bahwa media pembelajaran dengan menggunakan program SWiSH dapat secara efektif meningkatkan motivasi belajar bahasa jawa bagi siswa. Hal ini ditunjukkan dari perbedaan hasil pre test dan post test berkaitan dengan motivasi belajar siswa, perbedaan tersebut dapat dilihat dari hasil pre test sebagai berikut : siswa yang berada dalam kategori rendah sebanyak 14 orang atau 18,18 %, yang berada dalam kategori sedang sebanyak 21 orang atau 27, 27% dan yang berada dalam kategori tinggi sebanyak 42 orang atau 54,54%. Sedangkan hasil dari post test diperoleh data siswa yang berada dalam kategori sedang sebanyak 25 orang atau 32,46%, yang berada pada kategori tinggi sebanyak 52 orang atau 67,54% dan tidak ada siswa yang berada dalam kategori rendah. Berdasar hasil penelitian dapat diambil simpulan sebagai berikut : (1) Media pembelajaran dengan menggunakan program SWiSH dapat secara efektif meningkatkan motivasi belajar bahasa jawa bagi siswa SMP; (2) Media Pembelajaran dengan menggunakan program SWiSH dapat menjadi media alternatif dalam pembelajaran bahasa jawa. Kemudian saran yang bisa diberikan adlah : (1) Pengembangan media pembelajaran bahasa jawa terutama yang berbasis komputer perlu lebih ditingkatkan, karena saat ini siswa sering menggunakan komputer sebagai sarana belajar maupun bermain; (2) guru maupun orang tua sebaiknya menyediakan berbagai alternatif media pembelajaran bagi siswa, supaya motivasi siswa untuk belajar bahasa jawa dapat terus terjaga.

Kata kunci : SWiSH, motivasi belajar, bahasa jawa.